4 Syarat Kambing Aqiqah Termudah (Bagi Pemula)

4 Syarat Kambing Aqiqah Termudah (Bagi Pemula)

Sebelum anda mengetahui syarat kambing aqiqah, anda harus mengerti terlebih dahulu definisi aqiqah itu sendiri. Aqiqah adalah pengurbanan hewan dalam syariat Islam, sebagai bentuk rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT mengenai bayi yang dilahirkan.

Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunah muakkadah, dan ini adalah pendapat jumhur ulama menurut hadits. Beberapa ulama menjelaskan bahwa aqiqah sebagai penebus adalah artinya aqiqah itu akan menjadikan terlepasnya kekangan jin yang mengiringi bayi.

Hukum aqiqah sunah muakkadah bagi mereka yang mampu, bahkan sebagian ulama menyatakan wajib. Aqiqah memiliki arti menyembelih kambing saat hari ketujuh setelah kelahiran anak yang sudah diberi nama. Sedangkan menurut bahasa, aqiqah berarti pemotongan.

Hukum Aqiqah

Telah banyak anda ketahui, dalam hal fikih akan sering ditemukan perbedaan pendapat dari kalangan ulama fikih, terutama ulama fikih dari empat Mazhab. Begitu juga dalam persoalan hukum aqiqah, syarat kambing aqiqah pun berbeda-beda menurut beberapa mazhab.

Bagi seorang muslim biasa, dengan berpegang pada pendapat yang diamalkan oleh mayoritas ulama fikih insya Allah akan lebih menyelamatkan dari kekeliruan. Para ulama fikih mazhab Syafi’I dan pendapat masyhur Mazhab Hanbali menyatakan bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah.

Pendapat mazhab ini memahami bahwa anak tersebut tidak akan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sebelum ia diaqiqahi. Sedangkan menurut Mazhab Hanafi aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran anak, mencukur rambut kepala, setelah memberi nama, dan membagikan sedekah.

Sedangkan mazhab Maliki berpendapat, aqiqah hukumnya mandub. Hukum Mandub derajatnya berada di bawah hukum sunnah. Adapun ulama fikih mazhab zahiri semisal Daud bin Ali dan Ibnu Hazm, keduanya berpendapat bahwa aqiqah hukumnya wajib.

Karena hal tersebut, dapat diketahui bahwa pendapat yang menyatakan hukum aqiqah itu sunnah muakkad merupakan pendapat yang banyak digunakan oleh ulama mazhab. Pendapat bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah banyak diamalkan oleh para ulama kontemporer.

Syaikh Shalih al-Munajjid menjelaskan bahwa, pada haadits tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan perintahnya dengan rasa suka atau rela untuk melaksanakan pada pelakunya. Hal tersebut menunjukkan bahwa hukum aqiqah hanya sampai sunnah dan tidak mencapai derajat wajib.

Namun, di sisi lain syaikh Shalih al-Munajjid memberi catatan, meskipun hukum aqiqah adalah sunnah. Isi catatan tersebut menyatakan bahwa hendaknya umat Islam tidak meremehkan amalan ini, yaitu mengaqiqahkan anaknya setelah diberi nama bayi laki-laki atau nama bayi perempuan.

Para ulama kontemporer yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah juga memfatwakan bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, dengan ketentuan jika anak yang lahir laki-laki, maka aqiqah dengan dua kambing. Jika anak yang terlahir perempuan, maka cukup dengan satu kambing.

Maka dari itu aqiqah dilakukan di hari ke tujuh setelah kelahiran. Jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh karena adanya faktor tertentu, boleh untuk melaksanakannya di hari yang lain setelahnya. Utama untuk segera dilakukan, dan tidak berdosa apabila harus mengakirkannya.

Tata Cara Aqiqah

Para ulama telah sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama ialah hari ke-7 dari awal kelahirannya. Bahkan jika berhalangan anda tetap dapat melaksanakannya hingga hari ke-21. Sehingga, anda dapat memilih hewan sesuai dengan syarat kambing aqiqah yang ditentukan.

Dalam aqiqah, anda harus membagikan daging yang sudah disembelih tadi dalam kondisi sudah masak. Dalam kondisi seperti ini, anda dan keluarga disunnahkan pula untuk mengkonsumsi daging aqiqah. Sedangkan daging sepertiganya, dihadiahkan kepada tetangga dan fakir miskin.

Dalam tata cara aqiqah menurut islam saat menyelenggarakan aqiqah, anda disunnahkan pula untuk melakukan cukur rambut dan memberikan nama baik kepada anak yang baru lahir. Memberikan nama baik kepada anak akan mencerminkan bagaimana akhlak dan imannya nanti kepada Allah.

Sedangkan doa aqiqah yang artinya sebagai berikut. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah terimalah (hewan aqiqah) dari Muhammad dan keluarganya serta dari umat Muhammad. Doa aqiqah ini dapat dibacakan pada saat penyembelihan hewan aqiqah.

Syarat Kambing Aqiqah

1.  Cukup Umur

Syarat kambing aqiqah yang pertama adalah cukup umur. Yang dimaksud cukup umur adalah minimal enam bulan dan sebaiknya sudah melewati satu tahun. Ini yaitu berdasarkan sabda Rasul dan pernyataan ulama. Untuk domba cukup satu tahun atau kurang sedikit.

Untuk kambing umumnya umurnya cukup dua tahun serta masuk tahun ketiga. Sedangkan penampilan kambing untuk aqiqah sebaiknya serupa kambing qurban yaitu kambing yang sehat dan tidak cacat atau sakit.

2. Hewan sehat

Anda harus memeriksa mulai dari mata, apakah buta kedua matanya atau buta sebelah, lalu ekor dan telinganya apakah sudah terpotong. Anda juga harus memeriksa dari sisi fisik kambing, apakah sedang sakit atau tidak.

Apa bila anda akan memakai jasa aqiqah, sebaiknya anda memakai jasa aqiqah yang benar-benar profesional dan terpercaya. Banyak yang menyediakan kambing aqiqah murah namun harus diperiksa terlebih dahulu sebelum membeli.

3. Tidak Cacat

Sebetulnya bukan cacat yang tidak diperbolehkan, tetapi bila tanduk patah, gigi lepas dalam masa pergantian serta bulu rontok, sakit ringan dan saksikan sekian tidak sedikit penyakit atau tanya yang tidak membahayakan kehidupan kambing untuk aqiqah.

4. Contoh Rasulullah

Dengan demikian, maka sah bila seseorang menyembelih kambing betina dalam kurban dan aqiqah, walaupun yang utama dan dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah kambing jantan yang bertanduk.

Hikmah Aqiqah

Banyak hikmah yang akan diperoleh setelah melaksanakan aqiqah. Berikut ini beberapa hikmah melaksanakan aqiqah.

  • Sarana memprokalmirkan kelahiran anak kepada lingkungannya.
  • Perwujudan rasa syukur dan kegembiraan atas bertambahnya umat Muhammad.
  • Mempererat ikatan cinta masyarakat yang berkumpul menghadiri jamuan aqiqah.
  • Ikut meringankan masalah social dengan pembagian daging aqeqah.
  • Menghubugkan antara anak dan orang tuanya baik dalam do’a maupun syafaat di hari kiamat.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Setelah mengetahui syarat kambing aqiqah, alangkah baiknya mengetahui waktu pelaksanaannya. Secara umum, ulama berpendapat bahwa waktu disunnahkannya penyembelihan hewan aqiqah adalah pada hari ke-7. Akan tetapi mereka berberda pendapat tentang hari kebolehan diluar sunnah.

Namun, Syafiiyah dan Hanabilah membolehkan pelaksanaan aqiqah tepat setelah bayi dilahirkan dan tidak harus menunggu sampai hari ke-7. Tapi mereka tidak membolehkan sebelum bayi dilahirkan.

Ababila aqiqah dilakukan sebelum kelahiran bayi akan dianggap sebagai sembelihan biasa, sehingga membuat aqiqah tidak sah. Hal ini didasari atas suatu sebab yaitu kelahiran. Maka jika bayi sudah terlahir aqiqah boleh dilaksanakan.

Sedangkan Hanafiyah dan Malikiyah baru membolehkan pelaksanaan aqiqah pada hari ke-7 pasca kelahiran. Aqiqah menjadi tidak sah dan dianggap sembelihan biasa jika dilaksanakan sebelumnya.

Dan jika seorang muslim dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, maka terlepaslah kewajiban melakukan aqiqah ini. Tidak akan berdosa seorang muslim jika meninggalkan ibadah ini, kecuali jika ia memang tidak mampu.

Bahkan pendapat yang mengatakan aqiqah bisa dilaksanakan saat hari ke-14 atau ke-21 pun masih rendah, yang jelas Rasulullah SAW mengajurkan kita agar menyegerakan ibadah aqiqah saat hari ke-7 agar amalan kita segera diterima Allah SWT.

Leave a Comment