Hukum Aqiqah Menurut Agama (Wajib ?)

Hukum Aqiqah Menurut Agama (Wajib ?)

Dalam menjelaskan hukum Aqiqah terdapat perbendaat pendapat di kalangan Ulama besar. Ada yang berpendapat wajib dan ada juga yang berpendapat sunnah. Kedua kiblat tersebut sama-sama berdasarkan hadits yang mendukung pendapat mereka.

Walaupun berbeda pendapat, dalam mendesinisikan Aqiqah sama-sama mengartikan sebagai menyembelih. Menyembelih disini dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia Allah SWT berupa kelahiran anak yang sudah lama dinantikan.

Hadits Tentang Hukum Aqiqah

Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum Aqiqah. Sebagian Ulama berpendapat kalau Aqiqah itu hukumnya wajib. Sedangkan mayoritas Ulama mengatakan kalau Aqiqah itu hukumnya Sunnah Muakad. Menurut Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi Rahimahullah dalam kitab Al-Wajiiz menjelaskan kalau Aqiqah itu suatu kewajiban bagi kedua orang tua.

Pendapat beliau mengacu pada hadits dari Salman bin Amir adh-Dhabby Radhiyallahu’anhu, ia mengatakan “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Bersama seorang anak itu ada Aqiqahnya.” (Shahih Ibnu Majah no:2562u Fathul Bari IX: 590 no 5472,‘Aunul Ma’bud VIII:41 no:2822u Tirmidzi III: 35 no:1551 dan Nasa’i VII:164)

Berbeda pendapat dengan Syaikh Utsaimin Rahimahullah, hukum Aqiqah adalah Sunnah muakad yang berarti sangat dianjurkan. Sehingga akan sangat baik jika dilaksanakan ketika sudah mampu dalam hal finansial. Akan tetapi bagi orang yang tidak mampu maka kewajibannya sudah gugur untuk melaksanakan Aqiqah.

Menurut Imam Ahmad Rahimahullah, beliau menjelaskan kalau hukum Aqiqah itu Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.  Dalam Hadits diriwayatkan kalau beliau telah melakukan Aqiqah untuk Hasan dan Hushain, dan para Sahabat juga melakukannya.

Dari Hasan bin Samurah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda “ Semua anak yang lahir tergadaikan dengan Aqiqahnya.” ( HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i). Sehingga kurang baik, jika seorang bapak tidak melakukan Aqiqah untuk anaknya. ( Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (3/194)).

Yang mendasari dari perbedaan pendapat mengenai hukum Aqiqah, karena hanya berdasarkan Rriwayat Hadits saja. Karena memang tidak ada ayat Al-quran yang membahasa secara jelas mengenai hukum dari Aqiqah. Akan Anda tidak perlu ragu, karena hadits dijadikan referensi merupakan Hadits yang Shahih, sehingga keasliaannya dapat dipercaya.

Bagaimana hukum Aqiqah untuk janin prematur. Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahulah : Bila janin terlahir setelah 4 bulan, maka hukumnya sebagaimana bayi hidup maupun mati. Ketika janin sudah berumur 4 bulan maka roh telah ditiupkan, maka hukumnya hukumnya sama dengan bayi yang telah lahir. Akan tetapi jika janin beum berumur 4 bulan, walaupun kelaminnya sudah dketahui, tidak ada Aqiqah yang ditanggung.

Waktu Aqiqah

Waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan Aqiah adalah pada tujuh hari setelah kelahiran. Atau jika terlewat bisa dilaksanakan pada hari ke-14 atau pada hari ke-21. Penghitungan waktu tersebut berdasarkan Hadits dari Burairah dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda,”Kambing ‘aqiqah disembelih pada hari ketujuh atau ke 14 atau ke 21.” (Shahihul Jami’us Shaghir no: 4132 dan Baihaqi IX: 303).

Akan tetapi menurut sebagian Ulama diantarnya Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat boleh melaksanakan Aqiqah selain waktu diatas, artinya tanpa batasan waktu. Sehingga berdasarkan pendapat ini, maka orantua yang belum mampu untuk melaksanakan Aqiqah pada ketentuan waktu diatas, masih bisa melaksanakan Aqiqah dikala sudah mampu dalam hal finansial.

Ketentuan Melaksanakan Aqiqah untuk Anak

Selain menentukan hukum Aqiqah, Syariat Agama juga mengatur tentang jumlah hewan yang harus disembelih untuk Aqiqah. Menurut HR Ibnu Majah dan Tirmidzi, Rasulullah SAW pernah mengatakan kalau jumah kambing yang harus disembeih untuk anak laki-laki adalah 2 ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan adalah 1 ekor kambing.

Akan tetapi menurut Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah menjelaskan kalau ada keringanan dalam menyembelih hewan Aqiqah ketika tidak mampu. Misalnya saja orang tua hanya mampu menyembelih 1 hewan kambing untuk Aqiqah anak laki-laki.

Sedangkan menurut Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah, menjelaskan kalau penyembelihan hewan untuk Aqiqah anak laki-laki boleh tidak bersamaan. Contohnya, minggu pertama hanya menyembelih 1 ekor kambing, 1 ekor kambing lagi di sembelih 1 tahun kemudian.

Untuk hewan kambing yang bisa digunakan untuk Aqiqah sama dengan kambing untuk Qurban. Baik dalam usia, jenis dan juga kesehatannya. Tetapi tidak ada hadits yang jelas mengenai jenis kelamin yang di syaratkan untuk Aqiqah. Sehingga baik kambing jantan maupun kambing betina bisa digunakan untuk Aqiqah. Akan tetapi Rasulullah SAW menganjurkan untuk menyembelih kambing jantan yang bertanduk untuk Qurban dan juga Aqiqah.

Jika ditanya siapa yang harus membiayai Aqiqah anak. Jawabannya yang pasti orangtuanya. Karena memang anak adalah tanggung jawab dari orangtua. Akan tetapi apabila orang tuanya tidak mampu. Bisa saja sanak keluarganya atau kakeknya bisa membiayai untuk Aqiqah sang anak.

Seperti halnya yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah, “ Jika si anak di Aqiqahi oleh kakeknya atau saudaranya atau yang lainnya maka ini boleh. Tidak disyaratkan harus ayahnya atau dibiayai sebagiannya.” ( Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah).

Untuk pembagian daging sembelihan Aqiqah. Menurut Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah : Disunnahkan untuk dimakan sepertiganya, dihadiahkan sepertiganya untuk sahabat dan disedekahkan sepertiganya untuk kaum muslimin. Akan tetapi akan lebih mudah untuk mengundang teman-teman, keluarga maupun tetangga untuk menghadiri acara Aqiqah dengan hidangan dading hewan yang disembelih untuk Aqiqah tersebut.

Melaksanakan Acara Aqiqah

Untuk mempersiapkan acara Aqiqah pastinya, Anda harus mempersiapkan hewan berupa kambing yang akan disembelih. Secara Syariat agama, dianjurkan agar Ulama yang sudah paham untuk menyembelih. Kemudian menyiapkan daging yang sudah disembelih agar nantinya dapat dihidangkan untuk para tamu yang datang pada acara Aqiqah.

Pada zaman sekarang untuk mempermudah prosesi mempersiapkan hidangan untuk Aqiqah, ada layanan jasa yang dapat Anda manfaatkan. Mulai dari proses penyembelihan sampai hidangan siap dimakan. Akan tetapi Anda perlu melihat bagaimana proses penyembelihannya. Setelah hidangan sudah disiapkan. Anda harus membuat undangan agar tetangga, kerabat dan teman-teman Anda mengetahui kalau Anda mengadakan acara Aqiqah.

Untuk membuat undangan Aqiqah, Anda dapat mencari referensi di internet contoh undangan Aqiqah yang mudah untuk Anda buat. Atau langsung datang ke percetakan yang dekat dengan rumah untuk melihat langsung contoh undangan Aqiqah yang dibuat oleh percetakan.

Dalam prosesi Aqiqah yang umum dilaksanakan oleh umat muslim di Indonesia adalah melantunkan Sholawat Nabi, mencukur sebagian rambut anak, membaca doa Aqiqah dan juga memberi nama untuk anak Anda. Adapun doa Aqiqah yang biasa digunakan adalah doa untuk keselamatan anak dan juga doa agar terhindar dari godaan setan.

Nama Bayi Perempuan yang Islami

Nama adalah doa, itulah yang dipercaya oleh semua orang. Oleh sebab itu memberikan nama dengan arti yang baik untuk anak sangatlah dianjurkan. Berikut ini referensi nama bayi perempuan yang bisa Anda gunakan untuk nama bayi perempuan Anda.

  • Atika Fithiya Tsabita : Seseorang dengan hati yang mulia dan teguh.
  • Afifah Hilya Nafisah : Perempuan yang berharga dan memiiki kemuliaan yang tinggi.
  • Balqis Khansa Alya : Perempuan yang derajatnya tinggi dan baik seperti ratu Balqis.
  • Chayra Ainin Qulaibah : Kebaikan yang berasal dari mata hati yang suci
  • Davina Zalia Hamidah : Perempuan tercinta yang suka memuji-Nya.

Seperti itulah hukum Aqiqah yang dipercaya oeh umat Islam khususnya di Indonesia. Untuk dapat melaksanakan Aqiqah. Sesuaikanlah dengan kemampuan Anda untuk membeli hewan sembelihan. Jangan memaksakan diri, jika Anda memang tidak mampu. Selain itu untuk memberi nama bayi perempuan Anda bisa mencari referensi nama dari istilah lain, seperti nama jawa contohnya.

Leave a Comment